Biografi KH. Abdul Djabbar

Silsilah Ke Atas

Diceritakan kira – kira abad 12 H atau 18 M, ada seorang Kepala Kampung (Demang) di desa Kalimati (sekarang Kalirejo) Kecamatan Dukun Sedayu Kabupaten Gresik Jawa Timur yaitu desa tepi utara sungai Bengawan Solo, bernama Wirosari. Beliau adalah seorang kepala kampung yang sangat berpengaruh di masyarakatnya, sehingga oleh Kanjeng Bupati pada waktu itu diberi gelar Kudo Leksono.
Kudo Leksono adalah putra dari Nyai Siman Binti Nyai Sarimah binti Ongkoyudo bin Abdillah bin Abdul Djabbar (alias Kusumoyudo) dan pangeran Selarong bin Pangeran Bawono bin Pangeran Pajang alias Lembupeteng alias Joko Tingkir dan seterunsya sampai ke Brawijaya Mojopahit.

Silsilah Ke Bawah

 Wirosari atau Kudo Leksono meninggalkan 3 orang keturunan yang bernama Kadiyun, Kasli dan Nasik.
Nasik tidak berketurunan. Kasli hanya mempunyai seorang putra yaitu Saib. Dari beliau lahir 3 orang anak yaitu :

  1. Aminah
  2. Ahyad
  3. Siroj

          Sedang dari Kadiyun yang berkedudukan di Sedayu (Ibukota Kabupaten Gresik pada waktu itu) berketurunan 3 orang anak pula : Mereka ialah :

  1. KH. Abdul Djabbar
  2. K. Munibun,
  3. Nyai Ngapiani atau Nyai Utami

          Sebelum kita sebut putra – putra KH. Abdul Djabbar, baiklah kita sebutkan dahulu putra – putra Nyai Utami dan Kyai Munibun.
Nyai Utami yang berdomisili di desa Pringgoboyo Kecamatan Pangkatrejo Lamongan mempunyai 3 orang putra yaitu :

  1. Ismail
  2. Mutmainah
  3. Abdul Qohar

Kyai Manibun yang berkedudukan di desa Sumur berkecamatan Panceng Kabupaten Gresik, meninggalkan 4 orang anak yaitu :

  1. A. Ghofar
  2. Masyhadi
  3. Abd. Muid CH. Malkan
  4. Abd. Ghofur

          Sedang Kyai Abdul Djabbar yang berkedudukan di desa Maskumambang Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik mempunyai 10 orang putra yang bekembang sehingga menjadi keluarga besar yang kali ini mengikat diri menjadi satu keluarga yang bernama Ikatan Keluarga Kyai Abdul Djabbar atau disingkat IKKAD.
Kesepuluh putra KH. Abdul Djabbar tersebut adalah :

  1. KH. Rois
  2. Nyai Hj. Alimah
  3. KH. Abu Dzarrin
  4. KH. Faqih
  5. KH. Atqon
  6. KH. Sjahid
  7. Nyai Hj. Muhsinah
  8. KH. Harun
  9. KH. Ahmad Muhtadi
  10. KH. Abdullah Musta’in

Kegiatan-Kegiatan di Masa Mudanya

KH. Abdul Djabbar dilahirkan pada tahun 1241 H dan wafat pada tahun 1325 M dalam usia 84 tahun. Di masa mudanya beliau penuh bekerja pada kantor Kabupaten Sedayu seabagai salah seorang pegawai yang dicintai oleh Kanjeng Bupati, karena ketekunan dan kecakapannya terutama lagi amanahnya. Namun oleh suatu hal, terpaksa beliau berhenti dari pekerjaan itu, kemudian beliau pergi ke daerah Sidoarjo, tepatnya yaitu di desa Ngelom – Sepanjang untuk menuntut ilmu dalam suatu pondok pesantren yang ada disitu. Kemudian melanjutkan di Tugu Kedawung Kabupaten Pasuruan.
          Setelah cukup dalam menuntut ilmu, beliaupun kembali ke daerahnya dan kawin dengan Mbah Nursimah, putri dari Kyai Idris, Kebondalem Boureno Bojonegoro.
          Demikianlah, maka kedua beliaupun mulai mengarungi lautan hidup ini dengan keluar masuk hutan rimba di daerahnya dengan pakaian yang sama, tanpa rasa khawatir dan takut.

Pembukaan Dukuh Maskumambang

Akhirnya beliau membuka sebidang tanah yang masih merupakan hutan kecil di tengah – tengah desa Sembungan Kidul Kecamatan Dukun. Setelah beliau berhasil membuka dan membersihkan daerah itu didirikan sebuah rumah yang amat sederhana untuk tempat tinggal suami – istri.
          Dan diberilah nama daerah itu dengan “Maskumambang”. Dari asal kata mas dan kambang (:bahasa jawa) artinya mengapung. Konon diberinya nama tersebut tidak lain karena daerah itu semula hutan yang lebat tanpa dipelihara namun akhirnya menjadi daerah yang indah, subur tempat mencari ilmu, seakan – akan mas yang mengambang.
          KH. Abdul Djabbar wafat pada tahun 1325 H atau 1907 M, kemudian pesantren Maskumambang dipelihara oleh putra – putra beliau terutama KH. Faqih dan dibantu oleh putra – putranya.
          Pada masa kecilnya, KH. Abdul Djabbar bernama Ngabidin dari kata – kata ‘Abid, diberinya nama itu oleh orang tuanya agar benar – benar men jadi manusia yang beribadah dengan baik.

(dikutip dari buku silsilah KH. Abdul Djabbar karangan KH.Chamim Syahid terbitan Th. 1980)